Komunitas Lensa Manual


OLEH ARBAIN RAMBEY

Komunitas Lensa Manual adalah kumpulan penggemar fotografi digital, tapi memanfaatkan lensa-lensa dari zaman film yang rata-rata umurnya sudah puluhan tahun. Pertanyaan yang kemudian wajar untuk muncul adalah apakah karena tidak mampu membeli lensa baru?

Demikianlah, Komunitas Lensa Manual (KLM) secara sekilas sering diduga orang sebagai kelompok fotografi yang sedang mencari-cari bentuk. Kenyataan yang ada, saat ini harga lensa manual kadang justru jauh lebih mahal daripada lensa digital baru.

Di dalam kelompok KLM banyak orang yang sangat paham teori optik, juga tersedia orang-orang yang dengan kreatifnya bisa mengubah dudukan lensa agar bisa dipasangkan pada tipe dudukan lain dengan akurat. Selain itu, sebagian besar kamera yang ada di KLM adalah kamera digital papan atas. Pendek kata, KLM adalah kelompok orang-orang yang sangat tahu dan sadar pada apa yang mereka kerjakan.

Koleksi lama

KLM resmi berdiri awal Maret 2009, artinya belum genap setahun usianya saat ini. Namun kalau dilacak secara tidak resmi, sebenarnya kelompok ini sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Keinginan untuk memanfaatkan lensa koleksi lama pada kamera digital yang baru dibeli sudah ada pada orang-orang yang nantinya membangun KLM. Sebelum KLM resmi berdiri, mereka sudah saling kontak berbagi informasi dengan berbagai cara.

Pengalaman satu per satu anggota KLM mungkin bisa disamakan dengan pengalaman yang terjadi pada Ketua KLM Robert Tang. Robert, yang membeli sebuah kamera digital pada awal tahun 2008, langsung berpikir untuk menggabungkan mimpi-mimpi lamanya akan lensa-lensa Eropa yang legendaris, seperti Carl Zeiss dan Leica, dengan kamera barunya itu.

Bagi kebanyakan anggota KLM, lensa Carls Zeiss dan Leica itu adalah sebagian contoh lensa abadi. Lepas dari keterbatasan fisik yang berat dan kaku, mutu optiknya sulit untuk dikalahkan atau bahkan sulit untuk disamai lagi di zaman digital ini. Kegilaan pada lensa manual bisa dilihat pula pada diri salah satu anggota senior KLM, Aryono Huboyo Djati, yang sampai memiliki puluhan lensa Leica serta puluhan lensa Eropa lain, termasuk Leica Noctilux yang kini sulit dimiliki tanpa punya uang minimal sembilan puluhan juta rupiah.

Sejak memiliki kamera digital pun saya tetap ingin memakai lensa-lensa lama yang berat dan khas itu. Mutu foto yang dihasilkan lensa manual sungguh luar biasa, kata Robert.

Pasar loak

Demikianlah, Robert mulai berburu lensa manual di sejumlah tempat, juga rajin mengumpulkan satu per satu artikel-artikel tentang lensa manual. Anggota KLM umumnya berburu lensa manual sampai ke pasar loak di kota-kota kecil Indonesia. Tapi yang paling sering adalah membeli dari dunia maya di eBay.

Pada Agustus 2008, Robert mulai rajin menulis tentang lensa manual pada kamera digital di alamat http://www.lensamanual.com. Berbagai contoh penggunaan lensa manual dipaparkan di situs ini. Per 23 Januari 2010, pengunjung situs ini sudah 15.620 hits.

Yang lebih menunjukkan bahwa minat umum pada lensa manual juga tinggi bisa dilihat pada topik tentang lensa manual yang ditulis Robert pada Februari 2009 di www.fotografer.net. Sampai 23 Januari 2010, topik ini sudah dibaca 54.069 kali. Dari topik ini pula, akhirnya Robert berkenalan dengan orang-orang sepikiran.

Pada Maret 2009 bersama dengan Siswono Purwanto yang tinggal di Jerman, Alfred M serta Fadjar Hamidi selaku administrator dan dengan dukungan teman-teman lain, saya membangun http://lensamanual.net, kata Robert.

Kini anggota situs ini sudah lebih dari 2.000 orang. Selain berkomunikasi di dunia maya, komunitas ini juga sering mengadakan pertemuan-pertemuan yang diisi dengan diskusi serta berburu foto bersama.

Founder :

Alfred ML, Fadjar HF, Tang Tarunodjojo


Moderator :

Siswono Purwanto, Hadiana Mulyana, Revo Belantara, Chongky Darmawan



Call:
08988-MANUAL (08988-626825)



Donasi:


BCA:

No. Rekening :
505-0287868

Nama : Tang Tarunodjojo


Bank Mandiri :

No. Rekening :
102-00-0536768-2

Nama : Tang Tarunodjojo


Email : info@lensamanual.net